di kampus gue saat ini sedang gencar-gencarnya acara PEMIRA (PEMIlihan Raya) saat ketua BEM sudah saatnya turun jabatan. dari sekian banyak pertanyaan saat debat kandidat atau eksplorasi calon, pertanyaan yang nyangkut di benak gue sampai saat ini adalah: "apa kegagalan terbesar kalian dalam berorganisasi?" mereka pun menjawab dengan versinya masing-masing.
tapi, gue merefleksikan pertanyaan itu pada diri gue sendiri. gue juga salah satu organisatoris. apa kegagalan terbesar gue dalam berorganisasi? mau tau? here I am~
kegagalan sendiri menurut gue bukan terjadi saat lo tidak bisa mencapai cita-cita atau tujuan melainkan saat lo melakukan sesuatu tidak dengan maksimal, kemudian tidak puas dengan hasilnya, dan menyesal. itu kegagalan versi gue.
kalo ditanya kegagalan versi organisasi, gue sejak SMP bahkan SD udah seneng ikut perkumpulan lembaga-lembaga dan sejauh ini tidak pernah menyesal alias berhasil (versi gue). tapi setelah sampai di titik ini, gue tau bahwa gue bukanlah manusia sempurna. gue punya satu penyesalan.
mungkin lo pernah baca di beberapa post sebelumnya bahwa gue saat ini sedang berada dalam tiga lembaga berbeda ideologi sekaligus. salah satunya adalah lembaga dakwah kampus. sebenernya gue bisa berada di lembaga ini juga karena 'kecemplung' alias accident. dengan kata lain, sejak awal gue emang gak niat-niat amat di lembaga ini tapi toh tetep gue jalanin. mempertimbangkan tanggung jawab gue di dua lembaga lainnya, kepala departemen tempat gue bernaung mengamanahkan satu program kerja 'ringan' yaitu pengajian yang diadakan satu kali setiap bulannya selama tiga bulan. menurut lo itu proker yang gampang apa enggak?
nah setelah satu tahun kepengurusan, baru dapat disimpulkan bahwa gue telah gagal. ya, gagal versi gue. gue tidak melakukan tanggung jawab dengan semaksimal, tidak melakukannya dengan antusias dan hasilnya pun pas-pasan dan gue menyesal. gue gak suka hasil yang pas-pasan terutama untuk sesuatu macam acara lembaga, gue orangnya perfeksionis. tapi entah kenapa cuma di lembaga ini doang gue gak semangat.
kepada departemen udah sering nyemangatin dan bantu macem-macem tapi gue tetep gak antusias. entah apa yang salah dengan diri gue.
awalnya gue denial dengan ketidaksusksesan (versi gue) ini. tapi lama-lama gue sadar, justru dari kesalahan inilah gue belajar banyak pelajaran. terutama jangan melakukan sesuatu dengan terpaksa. jika tidak suka, katakan tidak. jika tidak mau, berani menolak! karena kalau tetap diam maka kehancuran akan menimpa banyak orang. seperti gue saat ini.
yah, setidaknya gue punya satu cerita tentang kegagalan organisasi. jadi kalau ada yang tanya, gue bisa jawab
Minggu, 01 Desember 2013
Rabu, 27 November 2013
Dalam satu sarang burung, ada yang tinggal dan ada yang terbang tinggi mencari makan. untuk kemudian kembali dengan perut kenyang namun tak lupa membawa makanan untuk mereka yang menjaga sarangnya. tak ada yang lebih berjasa diantara keduanya. kepada kamu, semua keputusan ada di tanganmu. burung manakah dirimu?
Selasa, 26 November 2013
Ketika Menjadi Jembatan Tidak Selalu Berarti Buruk
dan diantara semua pengalaman menjembatani, yang akan gue ceritain adalah yang paling berkesan.
semua bermula dari seorang teman SMA yang bertanya apakah gue kenal seseorang, sebut saja Mawar. dan ya, gue memang kenal. Mawar adalah teman SMP gue dan teman SMA ini, sebut saja Melati, curiga Mawar memiliki affair dengan cowoknya. mari kita sebut pria ini sebagai Daun. intinya, disini ada kemungkinan perselingkuhan dimana salah satu dari Mawar atau Melati adalah korbannya, dimana keduanya adalah temen gue.
sebenernya ini adalah pengalaman menjembatani paling absurd yang pernah gue kerjain. tapi percayalah, jangan remehkan insting wanita yang mencintaimu, wahai pria.
kenapa gue bilang begitu? karena walaupun Melati yang menemukan Mawar lebih dahulu, eventually Mawar pun dapat menemukan Melati. bahkan sebelum gue make a move buat mempertemukan mereka. umpamanya mereka tak sengaja berpapasan namun insting masing-masing berkata bahwa mereka adalah saudara kembar. aneh kan? banget!
dan mereka memang bagai saudara kembar, menurut gue. setelah gue (yang pernah kenal keduanya) pikir-pikir, sifat mereka emang mirip. ceria-childish-heboh gitu. aneh gak menurut lo? mungkin cowok yang berada diantara mereka psikopat sampe nyari dua pacar dengan sifat yang sama persis.
akhir dari cerita ini sangat disayangkan tidak berakhir bahagia. mau bahagia juga gimana? mereka ada di posisi yang saling tidak menguntungkan dan mereka temen gue. temen gue. ah dunia.
gue dapet banyak pelajaran dari kisah menjembatani kali ini. walaupun sad ending tapi gue seneng mereka berdua bisa saling terus terang dan berdamai dengan keadaan. pada intinya akhirnya mereka menemukan jalan keluar dan kalian para pria, waspadalah!
jangan berkencan dengan dua wanita sekaligus, apalagi kalau sifat keduanya mirip, apalagi kalo mereka punya temen kaya gue huahahaha. i should got my spy license deh kayanya.
Jembatan. menjembatani dua tempat, dua budaya, dua pemikiran. not easy, but the view is great
Minggu, 17 November 2013
Mendengar
berkembanglah bilamana kau menginginkannya
jangan lupa berbunga dengan kelopak yang merah
berlayarlah bilamana kau rasa mampu
maka buatlah sampan lalu terjang ombak di sana
aku sebagaimana aku,
bukan siapa-siapa, tak mengapa
menjadi pendengar,
mendengar cukuplah untukku
bilamana tiada bunga berkembang,
dan tak satu pun sampan berlayar,
maka cukuplah aku yang mendengar keluh kesahmu
repost from Arief Hanifan
Senin, 11 November 2013
Kepada Kamu
kepada kamu yang (mungkin) tidak pernah sekalipun namaku terlintas di benakmu, ini aku, temanmu.
post kali ini gue mulai dengan intro melankolis kaya diatas. jangan protes!
entah apa yang terjadi, beberapa bulan terakhir ini rasanya kaya ada yang salah. kamu menghindar. iya, benar. seolah kita tidak pernah akrab, tidak pernah kenal, seolah aku (pernah) berbuat salah kepadamu. tapi aku tidak tau, aku tidak tau dimana letak kesalahanku.
mungkin kamu lelah dengan sikapku yang aneh, karena itu aku memberimu sedikit ruang untuk bernafas. tapi kamu tidak pernah kembali. tidak pernah lagi ada pesan-pesan yang dibalas ramah, obrolan santai pelepas penat kuliah atau sekedar ajakan webcam. aku bingung. tapi sejujurnya aku takut.
sampai pada sore ini seseorang bicara padaku dan mengingatkanku padamu. ah kawan, betapa aku rindu. setiap jejak yang kau buat, masih meninggalkan sejuta cerita tentang kita. kamu tau kamu bisa membicarakan semua hal padaku. kamu bisa menceritakan dimana salahku, apa aku membuatmu tidak nyaman, apa aku terlalu berlebihan, apakah aku.....aku tidak tau. aku takut. aku rindu.
bisakah kita kembali ke masa-masa itu?
God. i miss this guy.
post kali ini gue mulai dengan intro melankolis kaya diatas. jangan protes!
entah apa yang terjadi, beberapa bulan terakhir ini rasanya kaya ada yang salah. kamu menghindar. iya, benar. seolah kita tidak pernah akrab, tidak pernah kenal, seolah aku (pernah) berbuat salah kepadamu. tapi aku tidak tau, aku tidak tau dimana letak kesalahanku.
mungkin kamu lelah dengan sikapku yang aneh, karena itu aku memberimu sedikit ruang untuk bernafas. tapi kamu tidak pernah kembali. tidak pernah lagi ada pesan-pesan yang dibalas ramah, obrolan santai pelepas penat kuliah atau sekedar ajakan webcam. aku bingung. tapi sejujurnya aku takut.
sampai pada sore ini seseorang bicara padaku dan mengingatkanku padamu. ah kawan, betapa aku rindu. setiap jejak yang kau buat, masih meninggalkan sejuta cerita tentang kita. kamu tau kamu bisa membicarakan semua hal padaku. kamu bisa menceritakan dimana salahku, apa aku membuatmu tidak nyaman, apa aku terlalu berlebihan, apakah aku.....aku tidak tau. aku takut. aku rindu.
bisakah kita kembali ke masa-masa itu?
God. i miss this guy.
Langganan:
Postingan (Atom)



